Sabtu, 02 November 2013

PENGERTIAN DAN DEFENISI SOSIOLOGI A. Pengertian Sosiologi Menurut Para Ahli 1. Mayor Polak Sosiologi adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari masyarakat sebagai keseluruhan hubungan manusia dengan antara manusia, manusia dengan kelompok, kelompok dengan kelompok baik formal maupun material, baik statis maupun dinamis 2. Alvin Bertrand Sosiologi adalah studi hubungan antara manusia (human relationship) 3. P.j. Bouwman Sosiologi adalah ilmu masyarakat umum 4. Selo Sumardjan & Sulaiman Sumardi Sosiologi adalah ilmu yang mempelajari struktur sosial termasuk perubahan-perubahan sosial Berdasarkan beberapa pendapat ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi adalah suatu ilmu yang mempelajari tentang masyarakat dan interaksi yang terjadi dilingkungannya baik antara manusia dengan manusia, manusia dan kelompok maupun antara kelompok dan kelompok. B. Pengertian Sosiologi Pendidikan Menurut Para Ahli 1. F.G. Robbins Sosiologi khusus yang tugasnya menyelidiki struktur dan dinamika proses pendidikan 2. H.P Fairchild Sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental 3. PROF. DR. S. Nasution, M.Aa Sosiologi pendidikan adalah ilmu yang berusaha untuk mengetahui cara-cara mengendalikan proses pendidikan untuk mengembangkan kepribadian individu agar lebih baik 4. F.G. Robbins dan Brown Membicarakan dan menjelaskan hubungan hubungan sosial yang mempengaruhi individu untuk mendapatkan serta mengorganisasi pengalaman 5. E.G. Payne Sosiologi pendidikan adalah studi yang kompherensif terhadap segala aspek-aspek pendidikan dari segi ilmu sosiologi yang diterapkan 6. Drs Ary H. Gunawan Sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis pendekatan sosiologis 7. Charles A. Ellwod Sosiologi pendidikan adalah ilmu yang mempelajari menuju dengan maksud melahirkan hubungan-hubungan antara semua pokok-pokok masalah antara proses pendidikan dan proses sosial 8. Dictionary Of Sosiology Sosiologi pendidikan adalah sosiologi yang diterapkan untuk memecahkan masalah-masalah pendidikan yang fundamental 9. E.B. Reuter Sosiologi pendidikan mempunyai kewajiban menganalisa evaluasi dari lembaga-lembaga pendidikan dalam hubungannya dengan perkembangan manusia dan dibatasi oleh pengaruh-pengaruh dari lembaga-lembaga pendidikan yang menentukan kepribadian sosial dari setiap individu. Dari beberapa pendapat ahli diatas maka dapat disimpulkan bahwa sosiologi pendidikan adalah ilmu pengetahuan yang berusaha memecahkan masalah-masalah pendidikan dengan analisis sosiologi dan mempunyai kewajiban menganalisa evaluasi dari lembaga-lembaga dalam hubungannya dengan perkembangan manusia. PENDIDIKAN DAN PERSPEPTIF BUDAYA A. Pengertian Kebudayaan Kebudayaan berasal dari kata cultuur (bahasa Belanda) Culture (bahasa Inggris), colere (bahasa latin) yang berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan dan mengembangkan. Kebudayaan juga berasal dari buddhayah (bahasa sansekerta), yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Sedangkan pendapat yang lain menyatakan budaya adalah sebagai suatu perkembangan dari kata majemuk = budi daya, yang berarti daya dari budi yang berupa cipta, rasa dan karsa, sedangkan kebudayaan adalah hasil dari cipta , rasa, karsa. Devenisi kebudayaa menurut para ahli: 1. E.B. Tylor dalam Ahmadi (2004:172) kebudayaan adalah kompleks yang mencakup pengetahuan, kepercayaan, kesenian, moral, hukum, adat istiadat dan lain kemampuan-kemampuan serta kebiasaan-kebiasaan yang didapatkan oleh manusia sebagai anggota masyarakat. 2. Selo Soemardjan dan Soelaiman Soemardi dalam Ahmadi (2004:173) kebudayaan sebagai semua hasil karya, rasa cipta masyarakat. B. Pendidikan Merupakan Bagian Integral Dari Kebudayaan Berkaitan dengan pendidikan bahwa kebudayaan sebagai suatu pola dan hasil tingkah laku yang dipelajari oleh semua anggota masyarakat tertentu. Sebagai suatu hasil kebudayaan juga ditransmisikan dari generasi tua kepada generasi muda. Selain kebudayaan yang ada, ditransmisikan melalui pendidikan tetapi juga ada perubahan-perubahan sesuai dengan kondisi baru, sehingga terbentuklah pola tingkah laku baru, nilai-nilai dan norma-norma baru yang sesuai dengan tuntutan perkembangan masyarakat (Wardani, 1999:4.5). Menurut uraian di atas dapat ditafsirkan bahwa dengan pendidikan kebudayaan dapat diwariskan dan dengan pendidikan kebudayaan dapat diperbarui sesuai dengan kemajuan dan tuntutan masyarakat. Lebih lanjut secara jelas disebutkan bahwa pendidikan itu merupakan bagian dari kebudayaan (Wardani, 1999:4.2). Pendidikan itu merupakan bagian integral dari kebudayaan (Wardani, 1999:4.9). Menurut UU Nomor 4 tahun 1950 juncto nomor 12 tahun 1954 tentang Dasar-Dasar Pendidikan dan pengajaran di sekolah pada bab III pasal 4 dari pendidikan dan pengajaran adalah asas-asas yang termaktub dalam Pancasila dan UUD negara Republik Indonesia dan atas kebudayaan kebangsaan Indonesia. Demikian juga menurut UU nomor 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Indonesia dijelaskan bahwa pendidikan nasional adalah pendidikan yang berakar pada kebudayaan bangsa Indonesia dan berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945. Dari uraian di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa pendidikan nasional Indonesia berkaitan erat dengan kebudayaan Indonesia sebab pendidikan nasional Indonesia berakar pada kebudayaan Indonesia. Dari uraian di atas dapat diketahui dengan jelas bahwa pendidikan nasional Indonesia berkaitan erat dengan kebudayaan Indonesia sebab pendidikan nasional Indonesia berakar pada kebudayaan Indonesia. C. Ciri Khusus Agar Pendidikan Menjadi Pusat Kebudayaan Ciri khusus agar pendidikan menjadi pusat kebudayaan adalah menurut (Parsono dkk, 1990:4.16) antara lain sebagai berikut : 1. Peningkatan mutu pendidikan Agar peningkatan mutu pendidikan dapat tercapai secara optimal maka perlu diperhatikan antara lain : tujuan, materi pelajaran, metode pengajaran harus bervariasi, kemampuan yang telah dimiliki siswa, fasilitas dan perlengkapan yang memadai 2. Menciptakan Masyarakat Belajar Pendidikan hendaknya dapat menciptakan siswa agar ada upaya untuk selalu ingin tahu dan juga agar tercipta keinginan belajar sepanjang hayat. 3. Sekolah dapat menjadi teladan dari masyarakat Jika sekolah dapat menjadi teladan bagi masyarakat sekitarnya, maka sekolah dapat menjadi pusat kebudayaan. 4. Membentuk manusia Indonesia seutuhnya Menurut UU No. 2 tahun 1989 bab II pasal 4 ciri-ciri seutuhnya adalah : (1) manusia yang beriman, (2) memiliki pengetahuan dan ketrampilan, (3) memiliki kesehatan jasmani dan rohani, (4) kepribadian yang mantap dan mandiri, (5) serta memiliki rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan (Parsono dkk, 1990:4.7). D. Pendidikan Merupakan Sarana Untuk Pembudayaan Melalui pendidikan merupakan sarana untuk membudayakan anak. Hal ini tercermin dari fungsi sekolah adalah mentransformasikan nilai budaya dari satu generasi ke generasi lainnya. Lebih lanjut hubungan sekolah dengan masyarakat merupakan hubungan transformatif. Artinya sekolah memiliki kewajiban untuk mensosialisasikan nilai-nilai atau norma-norma yang ada di masyarakat kepada anak didik dengan berbagai perubahan-perubahan sebagai hasil perbaikan dari kekurangan yang ada. Dalam arti positif pendidikan dapat dipandang sebagai kegiatan inovasi (Sunaryo dan Nyoman Dantes, 1996/1997:40). Dari uraian tersebut di atas dimaksudkan melalui pendidikan di sekolah, pendidikan dalam rumah tangga maupun pendidikan di luar sekolah dapat dipakai sebagai sarana untuk pembentukan kebudayaan. Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa pendidikan merupakan sarana untuk pembudayaan. E. Peranan Sekolah Dalam Hal Kebudayaan 1. Peranan Sekolah Sebagai Pewaris Hasil cipta, karsa dan karya manusia yang memiliki nilai dan dijunjung tinggi tidak dengan sendirinya dimiliki oleh anak didik tanpa diajarkan (ditransmisikan) kepada anak atau dipelajari oleh anak tersebut. 2. Peranan Sekolah Sebagai Pemelihara. Nilai-nilai budaya yang tinggi dan pantas untuk dilestarikan, maka sekolah perlu memelihara, sedangkan budaya yang tidak perlu seperti egosentris (mementingkan diri sendiri) lambat laun harus dikurangi. 3. Peranan Sekolah Sebagai Pembaru Kebudayaan INDIVIDU DAN MASYARAKAT A. Pengertian Individu Individu berasal dari kata individium (latin), yaitu satuan kecil yang tidak dapat dibagi lagi. Individu menurut konsep sosiologi, artinya manusia yang hidup berdiri sendiri, tidak mempunyai kawan (sendiri). Individu sebagai makhluk ciptaan Tuhan Yang Maha Esa, di dalam dirinya selalu dilengkapi dengan kelengkapan hidup meliputi raga, rasa, rasio, dan rukun. Dalam pengertian Sosiologi, Individu adalah subyek yang melakukan sesuatu, subyek yang mempunyai pikiran, subyek yang mempunyai kehendak, subyek yang mempunyai kebebasan, subyekyang memberi arti (meaning) pada sesuatu, yang mampu menilai tindakan dan hasil tindakannya sendiri. B. Pengertian Masyarakat Istilah masyarakat berasal dari bahasa Arab “syaraka” yang berarti ikut serta, berpartisipasi, atau “masyaraka” yang berarti saling bergaul. Di dalam bahasa Inggris dipakai istilah “society”, yang sebelumnya berasal dari kata lain “socius” berarti “kawan” (koentjoroningrat,1980). Pengertian masyarakat menurut para ahli antara lain: 1. Ralp Linton (1936) Masyarakat adalah sekelompok manusia yang telah cukup lama dan bekerja sama, sehingga mereka itu dapat mengorganisasikan dirinya sebagai salah satu kesatuan sosial dengan batas ternetu. 2. Ohn Lewis Gillin dan John Gillin (Gillin & Gillin) 1945 Masyarakat itu adalah kelompok manusia yang terbesar yang mempunyai kebiasaan, tradisi, dan perasaan persatuan yang sama. Masyarakat itu meliputi pengelompokkan-pengelompokan yang lebih kecil. 3. Melville J. Herskovits atau Herkovits (1955) Masyarakat adalah sekelompok individu yang di organisasikan yang mengikuti satu cara hidup tertentu. Penegrtian ini menekan adanya ikatan anggota kelompok untuk mengikuti cara-cara hidup teretntu yang ada di dalam kelompok masyarakat. 4. Selo Soemardjan Masyarakat adalah orang –orang yang hidup bersama, yang menghasilkan kebudayaan. Adapun cirri-ciri masyarakat antara lain sebagai berikut: Soerjono Soekarno (1986) menyatakan, bahwa sebagai suatu pergaulan hidup atau suatu bentuk kehidupan bersama manusia, maka masyarakat itu mempunyai cirri-ciri pokok, yaitu: Manusia yang hidup bersama, bercampur untk waktu yang cukup lama, mereka sadar bahwa merupakan suatu kesatuan dam mereka merupakan suatu system hidup bersama. C. Hubungan Antara Individu Dan Masyarakat Mengenai bagaimana hubungan antara individu dengan masayarakat, ada tiga alternative jawaban : 1. Individu memiliki status yang relative dominan terhadap masyarakat 2. Masyarakat memiliki status yang relative dominan terhadap individu 3. Individu dan masyarakat saling tergantungan Hubungan antara individu dengan masyarakat seperti dimaksud diatas menunjukkan bahwa individu memiliki status yang relative dominan terhadap masyarakat, sedangkan lainnya menganggap bahwa individu itu tunduk pada masyarakat. Sementara itu masih terdapat suatu hubungan lagi, yaitu adanya hubungan interpenden (saling ketergantungan) antara individu di dalam masyarakat yang tidak terbatas kuantitasnya. Setiap satuan individu itu masing-masing mempunyai kekhususan yang berpengaruh terhadap dinamika kehidupan masyarakat. FUNGSI DAN PERANAN PENDIDIKAN A. Fungsi Pendidikan Dalam Masyarakat Kepastiannya masyarakat dalam lingkup negara disebut UU No 20 tahun 2003 pasal 2 bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang martabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk berkembangnya potensi didik agar menjadi manusia berilmu dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Jadi, menurut uraian diatas fungsi pendidikan untuk masyarakat dalam lingkup negara antara lain mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam mencerdaskan kehidupan bangsa Di masyarakat berinteraksi dengan seluruh anggota masyarakat yang beaneka ragam kepribadiaannya dan juga berinteraksi dengan benda-benda dan peristiwa-peristiwa. Pada masyarakat anak juga dapat memperoleh pendidikan nonpormal berupa kursus-kursus. Kepribadian dipengaruhi oleh gejalah sosial dan kebudayaan yang ada dilingkungannya. Contohnya yaitu anak yang hidup dalam lingkungan orang-orang berpendidikan cenderung suka belajar, anak yang hidup dilingkungan cenderung berjiwa ekonomis. Untuk itu, sebagai orang tua atau memilih pemimpin kita dapat memilih lingkungan hidup, menciptakan lingkungan hidup yang menguntungkan perkembangan kepribadian anak. Fungsi pendidikan menurut Bidom dalam Pedata (2000: 170) adalah: 1. Transmisi budaya, maksudnya dari budaya yang sudah ada maka dapat dipindahkan kepada masyarakat berikutnya 2. Meningkatkan integrasi sosial atau masyarakat dengan pendidikan dapat dibentuk dan ditingkatkan integrasi sosial mempersatukan masyarakat 3. Meningkatkan seleksi dan alokasi tenaga kerja dimaksudkan melalui pendidikan dapat diadakan pemilihan bidang pekerjaan dan juga penempatan serta penyediaan tenaga kerja. 4. Mengembangkan kepribadian melalui pendidik dapat dikembangkan adanya pribadi-pribadi yang unggul sesuai dengan harapan bangsa dan negara. Manfaat pendidikan untuk masyarakat (ada 2) : 1. Pendidikan sebagai transmisi dan pelestarian budaya untuk memindahkan juga diharapkan dapat melestariakn budaya yang sudah ada. Kita sebagai bangsa Indonesia memiliki kebudayaan daerah dan kebudayaan nasional dapat dilestarikan dan dipelihara keberadaannya sebagai warga negara wajib. 2. Sekolah sebagai pusat bagi masyarakat sekitarnya. B. Kebutuhan Masyrakat Akan Pendidikan Moeh Loi dalam Suryaningsih (2002:03) menyatakan school publik relation: 1. Untuk kegiatan yang dilakukan sekolah atau lembaga pendidik untuk memenuhi kebutuhan masyarakat 2. Kebutuhan masyrakat terhadap pendidik secara umum masyarakat (lebih khusus orang tua murid) mengirimkan anak-anaknya ke sekolah agar mereka dapat menjadi manusia dewasa yang bermanfaat bagi kehidupan dn bagi masyarakat. Orang tua menginginkan anaknya agar berprestasi di sekolah (khusus NEM). Ini berarti kebutuhan masyarakat terhadap sekolah adanya penyelenggaraan dan pelayana proses belajar mengajar yang berkualitas dengan output yang berkualitas (Suryaningsih 2005:23). C. Hubungan Antara Individu, Masyarakat Dan Pendidikan Adapun hubungan antara pendidikan (sekolah) dan masyarakat yaitu: 1. Memberikan informasi secar jelas dan lengkap kepada masyarakat. Misalnya ada penenuan JBS (Jam Belajar Siswa) yaitu samapi masyarakat memberikan kesempatan kepada anak-anak sekolahuntuk belajar di rumah agar tidak mendapat gangguan. Pada saat anak belajar orangtua murid tidak diperkenangkan menghadapkan antara lain televisi, radio, tape rekorder. Hal ini dilakukan pada jam-jam tertentu yang telah disepakati bersama antara anak, orang tua serta masyarakat. 2. Melakukan persuasi kepada masyarakat dalam rangka merubah sikap dan tindakan yang perlu mereka lakukan terhadap sekolah. Contoh: anggapan dari sebagian siswa apabila telah menyekolahkan anaknya maka yang mengawasi belajar menjadi tanggung jawab guru sepenuhnya. Padahal kenyataan anak belajar di sekolah waktunya terbatas, di rumah anak juga perlu mendapatkan pengawasan belajar dari pihak orang tua. 3. Suatu upaya untuk menyatakan sikap dan tindakan yang dilakukan oleh sekolah dengan sikap dan tindakan yang dilakukan untuk masyarakat secara timbal balik, yaitu dari sekolah kemasyarakat dan dari nmasyarakat ke sekolah. Contoh: dengan dibentuknya komite sekolah maka sekolah dan masyarakat dapat menjalin suatu kerjasama secara timbal balik antara sekolah dan masyarakat, sebaliknya sekolah dapat membantu sekolah. Hubungan antara sekolah dan masyarakat bahwa adanya informasi infotmasi yang diberikan kepada masyarakat yang dampaknya dapat membina sikap dan tindakan masyarakat terhadap pendidikan serta masyarakat memberikan sesuatu untuk perbaikan pendidikan, dapat terbina saling pengertian dari akibat berbagai (dampak pengiring) terjadinya saling menunjang program keinginan mewujudkan misi dan visi masing-masing. D. Perkembangan IPTEK Ilmu pengetahuan dan teknologi semakin maju dan mengalami perkembangan. Mutu pendidikan (sekolah) dan masyarakat dapat dikaji berdasarkan pendapat-pendapat sebagai berikut: 1. Menurut Popenoe dalam Ahmad (2004:182). Fungsi pendidikan untuk masyarakat antara lain: a. Transmisi kebudayaan masyarakat b. Menolong individu memilih dan melakukan perubahan sosial c. Menjalin integrasi sosial d. Sebagai sumber inovasi sosial 2. Memorat, Broom dan Selonick dalam Ahmad, antara lain: a. Transmisi kebudayaan b. Integrasi sosial c. Inovasi d. Seleksi dan alokasi e. Mengembangkan kepribadian social Kedua pendapat ahli tersebut dan budaya masyarakat yang ada memiliki kaitan yang erat yaitu inovasi (pembaharuan). Contoh: pengaruh yang positif dan ditemukannya energi nuklir maka dapat dipakai untuk pembangkit tenaga listrik. Dampak negatifnya yaitu pembunagn limbah nuklir dan minyak bumi semakin berkurang.   SEKOLAH SEBAGAI SISTEM SOSIAL A. Pengertian Sistem Seyogyanya sistem merupakan sekelompok bagian-bagian yang bekerjasama secara keseluruhan. Ada beberapa pendapat ahli mengenai pengertian sistem, yakni: 1. Johnson, Kast dan Rosenwig mengemukakan bahwa sistem adalah suatu tatanan yang kompleks dan menyeluruh. 2. Middleton dan Wedemeyer mengemukakan bahwa sistem adalah kumpulan dari berbagai bagian (unsur) yang saling tergantung yang bekerjasama sebagai suatu keseluruhan untuk mencapai suatu tujuan. 3. Sutjipto dan Mukti mengartikan sistem sebagai suatu keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian. 4. Bachtir menyebut sistem sebagai sejumlah satuan yang berhubungan satu dengan lainya sedemikian rupa sehingga membentuk satu kesatuan yang biasanya berusaha mencapai tujuan tertentu. 5. Cleland dan King mengemukakan bahwa sistem merupakan sekelompok sesuatu yang secara tetap saling berkaitan dan saling bergantungan sehingga membentuk keseluruhan yang tepadu. 6. Poerwodarmito mengatakan bahwa sistem merupakan seperangkat unsur yang secara teratur saling berkaitan sehingga membentuk suatu totalitas. Dari beberapa pendapat di atas, maka dapat disimpulkan bahwa sistem merupakan suatu kesatuan usaha yang terdiri atas bagian-bagian tetap yang berkaitan satu dengan yang lainnya, dalam usaha untuk mencapai tujuan dalam lingkungan yang kompleks/menyeluruh. B. Sekolah Sebagai Sistem Sosial Derekonstruksi dari Jeanne H Ballatina dalam Badar (1989: 99) Keterangan A. Kita memasuki gerbang sekolah kemudian langsung melewati kantor Kepsek, Wakepsek, Tatausaha, seolah-olah para staf (pegawai) bertindih sebagai pencatat dan penjaga sekolah. Setelah lonceng berbunyi gerbang sekolah ditutup. B. Ruang kelas adalah merupakan struktur fisik dari sekolah. Guru dan murid merupakan anggota utama dalam kelas. Masing-masing kelas mempunyai struktur sosial dan suasana yang berbeda seperti pengaturan tempat duduk, kelompok kerja siswa, tipe kepemimpinan, tipe siswa, tipe kelas dan sebagainyayang semestinya akan mewarnai keadaan kelas. C. Pendukung, ditujukan supaya kelas yang ada berfungsi. Tentu saja tidak semua sekolah mempunyai sarana pendukung seperti tersebut diatas. Ada yang memiliki konselor, pustakawan, dalam arti hanya sebagian saja yang dimilikinya. Sistem sekolah diatas memiliki sub-sub sistem bagian A, B, C memiliki tujuan dari masing-masing kegiatan-kegiatan yang saling mendukung untuk mencapai tujuan dari sistem. Sistem sekolah yang ada didalamnya (guru, kepsek, pegawai, bangunan, kelas, buku, dan sub sistem yang lain) semua harus berfungsi dalam pencapaian tujuan yang ingin dicapai dari sistem yang lebih besar. C. Tujuan Sistem Sekolah Sekolah sebagai sistem mempunyai tujuan. Sistem adalah suatu kesatuan yang saling terkait dan tidak dapat dipisahkan dari kesatuan. Menurut Sutjipto dalam Mukti (1991/1992) sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian. Sistem sekoalh yang lebih luas ada 3 kelompok atau bagian-bagian yaitu: 1. Masukan (input) adalah anak-anak yang memiliki berbagai macam tingkah laku dan misi yang diproses, tentu hasil output 2. Proses 3. Keluaran (output) Tujuan organisasi sekolah bertujuan untuk menghasilkan suatu produksi atau didalam prosesnya adalah memproses barang mentah sebagao imputnya menjadi barang jadi sebagai outputnya. Tujuan sistem sekolah dari berbagai sudut pandang ahli: 1. Tujuan Masyarakat Tujuan masyarakat ini tidak terlepas dari tujuan umum yang telah dirumuskan UUD RI tahun 1945 bahwa pendidikan itu sangat luas dimana setiap warga negara dijamin untuk menikmati pendidikan itu dan dapat terampil untuk mengembangkan dirinya menjadi manusia yang bertanggung jawab atas dirinya dan orang tua, mengembangkan manusia indonesia seutuhnya yaitu manusia yang: a. Beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa b. Memiliki pengetahuan dan keterampilan c. Memiliki kesehatan jasmani dan rohani d. Memiliki kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Secara umum masyarakat mempunyai harapan agar pendidikan di sekolah dapat memberikan bekal hidup dan keterampilan untuk membekali peserta didik agar dapat berkembang dimasyarakat. 2. Tujuan Sekolah Masing-masing sekolah mempunyai tujuan sesuai jenis dan tingkat sekolah.tujuan sekolah dapat dicapai dengan menjabarkan materi-materi yang tercantum dalam kurikulum kedalam kegiatan yang diterapkan dalam proses pembelajaran. Tujuan pendidikan sekolah tidak hanya menguasai bahan pelajaran tetapi dapat mengguanakan apa yang telah dipelajari itu untuk mampu berguna bagi diri sendiri dan membina diri kepribadian. Pendidikan sekolah lembaga bertujuan agar siswanya: a. Menyadari perlunya belajar seumur hidup dalam usaha mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidupnya dalam masyarakat b. Meningkatkan kemampuan belajar atau educability c. Memperluas proses belajar d. Memadukan pengalaman belajar di sekolah dengan pengalaman belajar diluar sekolah. 3. Tujuan Individu Mempengaruhi pelaksanaan sekolah sebagai suatu organisasi. Tujuan individu saat ini sering disebut kompetensi atau kemampuan.kemampuan yang ingin dicapai masyarakat yaitu afektif, kognitif dan psikomotor. Rangkuman: Situasi sekolah tidak jauh berbeda dengan situasi masyarakat. Institusi sosial yang disebut sekolah itu merupakan unsur sosial yang mempunyai kebudayaan tertentu. Kebudayaan sekolah dan interaksi antara individu yang berada didalamnya akan memberikan suatu iklim sosial. Sistem adalah keseluruhan yang terdiri dari bagian-bagian yang saling berinteraksi dalam suatu proses dan mempunyai tujuan tertentu.   SEKOLAH SEBAGAI SUATU BIROKRASI DAN SARANA MOBILTAS SOSIAL A. Sekolah Sebagai Suatu Birokrasi 1. Pengertian Birokrasi Adapun beberapa definisi birokrasi dari para ahli yaitu sebagai berikut: a. Menurut Ernawan (1988) menyatakan bahwa birokrasi adalah sesuatu yang menunjuk pada suatu sistematika kegiatan kerja yang diatur atau diperintah oleh suatu kantor melalui kegiatan-kegiatan administrasi b. Menurut Bahar (1989:103) menyatakan bahwa Birokrasi adalah merupakan rasional efisiensi organisasi yang setiap anggotanya hanya bertanggung jawab pada tugas yang dipegangnya dan dia mampu (kompeten) untuk melakukannya. c. Menurut Blau dan Page (1956) mengemukakan ´Birokrasi sebagai tipe dari suatu organisasi yang dimaksudkan untuk mencapai tugas-tugas administratif yang besar dengan cara mengkoordinir secara sistematis (teratur) pekerjaan dari banyak orang. d. Menurut Bintoro Tjokroamidjojo (1984) ´Birokrasi dimaksudkan untuk mengorganisir secara teratur suatu pekerjaan yang harus dilakukan oleh banyak orang´. e. Menurut Ronald B. Covin dalam Bahar (1989:103) disebutkan bahwa birokrasi itu merupakan istilah yang pegorative (tidak disukai atau buruk) dan terlintas kesan sebagai suatu yang tidak efisien atau organisasi yang tidak praktis. Berdasarkan dari pendapat diatas maka dapat disimpulkan bahwa birokrasi merupakan rasional efisiensi organisasi yang setiap anggotanya hanya bertanggung jawab pada tugas yang diprogrammnya dan dia mampu (kompeten) untuk melakukannya. 2. Ciri-Ciri Birokrasi Ciri-ciri birokrasi antara lain sebagai berikut: a. Organisasi yang terpisah dan mempunyai banyak staf b. lingkaran organisasi yang teratur dan tersusun rapi baik dari bentuk maupun pembagian kerjanya c. Ada peraturan yang mengatur tata cara pelaksanaan birokrasi baik kedalam maupun keluar. d. Status individu terdapat dalam birokrasi. Misalnya harus memahami dan melaksanakan peraturan atau cara kerja birokrasi. e. Mempunyai jalur komunikasi formal baik kedalam maupun keluar. B. Sekolah Sebagai Suatu Mobilitas Sosial 1. Pengertian Mobilitas Sosial Gerak sosial (Mobilitas sosial) adalah perubahan, pergeseran, peningkatan, ataupun penurunan status dan peran anggotanya Mobilitas berasal dari bahasa latin mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Gerak sosial (Mobilitas sosial) adalah perubahan, pergeseran, peningkatan, ataupun penurunan status dan peran anggotanya Mobilitas berasal dari bahasa latin mobilis yang berarti mudah dipindahkan atau banyak bergerak dari satu tempat ke tempat yang lain. Adapun definisi dari mobilitas sosial menurut para ahli yaitu sebagai berikut: a. Menurut Paul B. Horton, mobilitas sosial adalah suatu gerak perpindahan dari satu kelas sosial ke kelas sosial lainnya atau gerak pindah dari strata yang satu ke strata yang lainnya. b. Menurut Kimball Young dan Raymond W. Mack, mobilitas sosial adalah suatu gerak dalam struktur sosial yaitu pola-pola tertentu yang mengatur organisasi suatu kelompok sosial. Struktur sosial mencakup sifat hubungan antara individu dalam kelompok dan hubungan antara individu dengan kelompoknya. Jadi secara umum mobilitas sosial mengacu pada turun naiknya perkembangan kelas sosial seseorang. 2. Faktor Pendorong dan Penghambat Mobilitas Sosial Adapun faktor pendorong mobilitas social yaitu: a. Status social b. Keadaan Ekonomi c. Situasi Politik d. Kependudukan (Demografi) e. Keinginan melihat daerah lain Adapun faktor penghambat mobilitas social yaitu: a. Kemiskinan b. Diskriminasi kelas c. Perbedaan ras dan agama d. Perbedaan jenis kelamin (Gender) 3. Hubungan Antara Sekolah Dan Mobilitas Sosial Hubungan antara sekolah dan mobilitas sosial yaitu kesempatan memperoleh pendidikan dan mendapat pekerjaan sesuai kualifikasi pendidikannya. 4. Saluran Mobilitas Sosial Menurut PA Sadikin dalam Gunawan (2000:44) yang menjadi saluran mobilitas yaitu: 1. Angkatan bersenjata 2. Lembaga keagamaan 3. Lembaga pendidikan 4. Organisasi politis 5. Ekonomi 6. Keahlian

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar